Dalam rumah tangga, komunikasi sangatlah penting. Ini bukan sekedar teori, saya sudah merasakan langsung betapa pentingnya komunikasi antara suami dan istri.
Saya dan suami, sama-sama punya pekerjaan rutin setiap harinya. Sehingga, bila satu hari saja tidak ada komunikasi bisa repot kejadiannya.
Suatu hari, saya berangkat ke kantor tanpa pamit dulu pada suami karena ia sudah berangkat terlebih dahulu. Saya buru-buru menaiki sepeda motor, tapi ternyata, di tengah jalan, saya baru menyadari kalau spion sepeda motor berubah bentuk, tidak seperti aslinya. Perubahan ini membuat saya tidak nyaman. Saya pun mengerutu dalam hati. Ngapain suami saya merubah kaca spion? Jelek lagi. Bikin saya repot.
Pulang kerja, saya langsung konfirmasi pada suami. Tahu kenapa? Ternyata saat dipakai oleh suami, motor saya kesenggol orang saat di parkiran. Karena susah cari spare part asli, suami beli spion asal-asalan untuk sementara.
Saya pun lega. Kirain sengaja ganti spion tanpa konfirmasi!
Tuh, kan! Baru sehari saja ndak “diskusi”, bisa salah paham!
Sebenarnya, saya dan suami punya acara rutin “diskusi”, biasanya pagi sebelum ke kantor, sambil minum kopi atau sarapan , sepulang kerja kalau pas sama-sama sudah di rumah, dan malam habis maghrib. Itu bila situasi normal. Bila ada acara yang tidak bisa ditunda, kami bisa sama-sama ndak ketemu dan sibuk dengan acara masing-masing. Kadang saya pulang, suami berangkat lagi karena ada kegiatan di luar. Atau sebaliknya, suami di rumah, saya lagi lembur di kantor. Begitulah, bayangkan kalau tidak ada komunikasi yang baik, bisa frustasi saya dibuatnya.
Topik yang jadi bahan diskusi kami pun berubah-ubah, tidak selalu tentang keluarga, kadang juga masalah politik, budaya, masyarakat atau gosip artis. Acara diskusi ini, saya rasakan sangat membantu saya merasa nyaman dan membuat kami merasa dekat satu sama lain. Bagaimanapun, saya dan suami adalah dua orang berbeda yang memiliki pekerjaan dan lingkungan sendiri-sendiri. Karena persepsi yang sama tentang arah dan tujuan dari pernikahan, serta komitmen yang kuat untuk selalu menghargai dan menghormati satu sama lain, yang membuat kami bersatu dan kompak.
Saya akan kehilangan sesuatu bila dalam satu hari kami kehilangan waktu diskusi, bila keadaan memaksa kami untuk segera bergegas keluar rumah dan malamnya pun kelelahan dan langsung tidur.
Saya percaya, cinta saja tidak cukup dalam merekatkan hubungan suami istri. Apalgi kalau cuma nafsu birahi. Pernikahan yang harmonis lebih kompleks dari sekedar cinta dan sex, namun cinta dan sex juga satu hal yang penting. Jadi, bagaimana? Ya, semuanya dong.
Rencananya, mulai sekarang, acara diskusi kami ini akan saya bagikan sebagai bahan pembelajaran dan hikmah untuk semua. Diskusi ini akan saya tulis di halaman obrolan pagi.
Demikian, salam hangat. Semoga Allah melindungi dan menjaga keluarga kita. Amien.






