Pernah mengalami dilema seperti ini? Terus bekerja atau bekerja dari rumah?
Pernah mengalami dilema seperti ini? Terus bekerja atau bekerja dari rumah?
Beberapa hari lalu saya membaca email dari kawan dunia maya saya, Mbak Dhini Santi. Ia bercerita tentang multitasking, yaitu melakukan beberapa pekerjaan sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Misalnya menerima tamu di kantor sambil membaca email. Terus terang saya juga kadang-kadang melakukannya tanpa saya sadari.
Memang terkadang, saking banyaknya hal yang ingin dikerjakan, saya terlalu bernafsu untuk menyelesaikannya sekaligus, walaupun nanti pada akhirnya kurang memuaskan. Setelah membaca email dari kawan saya tadi, saya lantas berpikir untuk menata ulang pekerjaan saya agar tidak berantakan. Wah, terlalu banyak ide membuat kepala saya pusing.
Tapi karena bayangan kesuskesan terus menghantui saya, maka mau tidak mau saya harus meninggalkan kebiasaan buruk saya ber-multitasking dan harus fokus satu-satu. Dan inilah cara saya menertibkan diri :
1. Membuat jadwal satu minggu ke depan, dan mulai mengerjakan satu persatu.
2. Membuat rencana jangka panjang, dan menentukan target.
3. Membuat jadwal harian, baik untuk jangka pendek ataupun jangka panjang.
Mudah-mudahan cara ini bisa membuat hidup lebih tertata, dan bisa meraih sukses tentunya.
Menikah dengan pasangan yang terpaut jauh usia, 10 tahun atau 18 tahun lebih tua, bisa menimbulkan beberapa masalah yang harus disadari oleh pasutri. Apa saja masalah yang bisa muncul? Sex! Ini yang paling mudah ditebak? Bagaimana hubungan sex suami istri yang beda usia? Klik disini………..
Keharmonisan keluarga yang diharapkan semua orang, erat kaitannya dengan kepercayaan. Bila seorang anak tidak percaya pada orang tuanya, maka simpul-simpul cinta dan kasih sayang akan sulit dirasakan kedua belah pihak. Secara kasar dan kasat mata, orang tua tidak akan rugi bila tidak dipercaya oleh anak, apalagi bila orang tua dan anak sama-sama memiliki urusan rumah tangga sendiri. Tapi seorang anak akan rugi bila kehilangan simpul kasih sayang dari orang tuanya.
Ada sebuah kisah, seorang anak perempuan yang selalu ingin tahu keadaan ayahnya yang telah menikah lagi. Karena hidup terpisah, si anak tidak melihat langsung bagaimana kehidupan ayahnya kini. Si anak ini rupanya memiliki potongan masa lalu bersama sang ayah, namun karena ia kemudian meninggalkan ayahnya dan memilih tinggal dengan ibu kandungnya, si anak kehilangan momen-momen penting yang terjadi pada ayahnya.
Manusia berkembang, tumbuh dan cenderung ingin menjadi lebih baik. Demikian juga yang terjadi pada sang ayah. Sang ayah yang dulu dikenal hanya pejabat rendahan biasa saja, kini telah mengembangkan diri. Sang ayah perlahan-lahan berkembang dalam pendidikan dan karir, bersama dengan sang istri pilihannya ia selalu melakukan perubahan. Sang ayah melanjutkan kuliahnya yang sempat tertunda, menata ulang hidupnya dengan merintis usaha sampingan dan bersuka cita dengan pekerjaannya. Istri barunya pun melakukan hal yang sama, bersuka cita dengan karirnya, menata hidup agar bisa membantu suaminya. Pendek kata sepasang suami istri ini bergandeng tangan menata hidup, meletakkan pondasi rumah tangga yang kuat berdasar ilmu, cinta dan amal.
Sayangnya, sang anak tidak mengetahui perubahan ini. Ia hanya mengingat masa lalu sang ayah, tak sadar bila keadaan sudah berubah. Lebih buruk lagi, si anak tumbuh dalam kehidupan materialistis dan metropolis, segala sesuatu berdasar uang. Bahkan cinta sang ayah pun dinilai dengan uang. Yang selalu dibahas adalah : Berapa uang sang ayah yang bisa saya minta? Lupa si anak ini akan kewajiban sebagai anak. Kewajiban untuk sekedar menegur, bertanya kabar, dan yang paling mendasar adalah : KEPERCAYAAN, PERCAYA PADA ORANG TUANYA SENDIRI. Bila tidak percaya, lalu untuk apa ada hubungan dan komunikasi? Hubungan dan komunikasi yang terjadi pun menjadi hambar dan lebih sebagai ajang : Apa yang bisa saya terima? dan Bukan apa yang bisa kita terima dan kita beri?
Demikian sebuah kisah, sebuah renungan. Semoga hikmah terpetik dari kisah ini.