Sebelum menikah, suami dan istri adalah seorang individu yang memiliki dunia sendiri. Masing-masing punya hobi, pekerjaan, lingkungan sosial dan keluarga serta kerabat. Adanya pernikahan lalu menyatukan mereka dalam sebuah rumah tangga dengan ikatan hukum yang sah. Bagi beberapa orang, pernikahan membuat beberapa perubahan, misalnya perubahan pekerjaan, tempat tinggal atau hobi. Namun ada pula yang masih sama aktivitasnya, dengan pekerjaannya, dengan hobinya dan lain-lain, hanya saja disisi mereka ada seorang pendamping dan mungkin juga beberapa orang anak.
Perubahan secara teknis pastilah ada karena penyesuaian dari melajang lalu menikah, tetapi secara substansi, seorang individu pastilah masih perlu untuk menjelaskan kembali identitas dirinya, bagaimana dulu ia bercita-cita dalam karir atau tujuan hidup yang lain.
Adanya cita-cita ini, selama itu adalah positif dan tidak bertentangan dengan norma, seyogyanya didukung oleh masing-masing pasangan. Suami mendukung karir istri dan sebaliknya. Saling menggali potensi masing-masing agar bisa menjadi pribadi yang terus berkembang secara positif, semakin berkualitas dan sukses dalam menjalani peran dan tugasnya.
Seorang ahli mengatakan, kadangkala seseorang (istri atau suami) terlena dalam zona aman yang ia rasakan, sehingga seakan lupa akan visi dan misi ke depan. Zona aman karena merasa sudah cukup makan, sandang dan papan. Hingga merasa “tidak butuh apa-apa lagi”, zona aman ini akan membuat seseorang tidak kreatif dan terpacu meningkatkan kualitas diri yang semestinya masih bisa dilalui.






