• KISAH RUMAH TANGGA MARNI DAN MARNO

    kisah-marni-dan-marno

    Sore kemarin saya dikejutkan oleh kunjungan dari sepasang suami istri yang datang ke rumah, khusus untuk membicarakan masalah yang membelit rumah tangganya. Untuk memudahkan anggaplah istri bernama Marni dan suami bernama Marno (bukan nama sebenarnya). Berikut sekilas perbincangan mereka :

    Marni : Silahkan kalau suami mau menikah lagi, saya akan keluar dari rumah.

    Marno : Tidak bisa, rumah itu milik berdua, jadi harus dibagi dua.

    Marni : Tapi anak-anak tinggal dimana?

    Marno : Anak anak mau tinggal dengan saya ya silahkan. Pokoknya saya mau cerai, rumah dijual hasilnya bagi dua.

    Saya dan suami : Kenapa harus cerai? Mestinya kalau ada masalah kalian bersatu mencari solusi, bukannya malah bercerai. Apa masalahnya?

    Marni : Memang kami sudah tidak cocok.

    Marno : Gaji saya minus, buat bayar hutang saja tidak cukup. Jangankan buat anak, buat makan saja susah.

    Saya dan suami : Bagaimana kalau Marni membayar bagian untuk suami, biar rumah itu tetap ditinggali anak-anak?

    Marni : Ndak mau

    Saya dan Suami : Kalau kamu Marno?

    Marno : Ndak mau, saya duit dari mana?

    Saya dan suami : Ya sudah, kalau kalian tidak bisa disatukan lagi, silahkan cari pembeli.

    ————————————————————————————————————————–

    Dari perbincangan di atas, apa kesan kita? Mengapa rumah tangga hanya dinilai dari sekedar uang? Hingga harus berpisah dengan alasan untuk mengatasi masalah keuangan?

    Saya memang heran dan terpana melihat mereka, tapi ini adalah kenyataan. Barangkali ada Marni dan Marno yang lain. Marni dan Marno bukan kali ini datang ke rumah, dan nasehat yang diberikan pada mereka pun masih sama. Tapi nasehat tinggal nasehat, Marni dan Marno seakan tak peduli. Mereka tetap melanjutkan sidang perceraian mereka.

    Ada satu fakta yang menarik, Marni dan Marno masih tinggal serumah, dan masih bisa naik motor berboncengan berdua untuk datang ke rumah saya dan mengadukan masalah mereka. Kalau saya, seandainya, mau bercerai dengan suami, manalah mungkin saya bisa (masih bisa) membonceng motor suami dan pergi ke suatu tempat. Saya salut dengan mereka dalam hal ini. Tapi juga heran dengan cara pandang mereka dalam mengatasi masalah. Wong ada masalah uang, kok solusinya cerai dan jual rumah? Kalau rumah tetap dijual dan mereka tetap bersatu, tentunya bisa kan?

    Begitulah, akhir kata saya berpikir, mungkin saja Marno ini sebetulnya sudah punya WIL, sementara Marni sudah bosan dengan kemiskinan suaminya, hingga sudah tidak ada rasa cinta yang mampu mengikatkan mereka saat dilanda badai dalam rumah tangga.

    Share this nice post:

    Tags: , , , ,

Comments are closed.