Jodoh
JODOH
KEMANA HARUS MENCARI JODOH
YANG TAK KUNJUNG DATANG?
Selamat sore,
Perkenalkan, saya Ibu Sakinah. Anggaplah saat ini kita sedang duduk berhadap-hadapan. Menikmati udara sore hari yang cerah, ditemani secangkir teh hangat atau segelas kopi susu. Bila anda suka, putarlah musik melankolis dengan suara lamat-lamat.
Nah, lebih nyaman sekarang kan?
Saya mau bercerita, bahwa saya, dulu…sembilan tahun yang lalu, umur saya adalah 27 tahun. Saat itu, saya tidak tahu kapan saya akan menikah. Jangankan menikah, calon suami saja saya tak punya.
Saya, mungkin saja sama dengan anda para lajang yang sudah berumur cukup untuk menikah, sangat gelisah. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan lagi untuk menemukan dimana jodoh saya.
Saya berharap-harap bahwa Allah Swt akan memberi tanda pada saya lewat mimpi (anda mungkin tertawa membaca ini …?). Saya juga berharap teman kerja saya ada yang menyukai saya dan mengajak pacaran lalu menikah.
Saya berlarut-larut dalam pemikiran seperti di atas. Dan sekarang, saya tahu bahwa SAYA SALAH!! Alangkah bodohnya saya menghabiskan waktu untuk memikirkan siapa dan dimana jodoh saya.
Saya baru tahu sekarang, bahwa jodoh itu tidak perlu dicari-cari seperti kita mencari pekerjaan. Atau mencari barang kita yang hilang.
Ternyata, jodoh itu akan datang sendiri……….!
Yang harus kita lakukan adalah : Menyiapkan diri kita sendiri agar pantas dan layak untuk dijodohkan oleh Allah Swt dengan seseorang yang kita harapkan.
Ya, bukankah jodoh itu di tangan Allah Swt? Dan Allah Swt pasti tahulah, apakah kita sudah layak untuk mendapatkan jodoh? Kalau kita belum layak dapat jodoh, Allah Swt kan pasti tahu. Dan manalah mungkin Allah Swt mau mengirimkan jodoh untuk kita.
Begitulah,…..saat usia saya mencapai 29 tahun, saya menemukan jodoh saya. Saya yang lahir tahun 1972, menikah pada tahun 2002. Tua? Ya, mungkin saja saya termasuk perawan tua.
Tapi, saya akan menceritakan pada anda bukan mengenai usia saya, tapi bagaimana saya menemukan jodoh saya. Bukankah kita akan membahas tentang JODOH?
Nah, suami saya itu, saya temukan dalam situasi yang di luar dugaan saya. Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya, bahwa saya akan bertemu dengan jodoh saya dalam situasi seperti itu.
Suami saya itu, saya kenal pertama kali di kantor tempat saya bekerja. Dia ini seorang duda dengan enam orang anak. Ow, anda mungkin berpikir, apa karena perawan tua lalu mau saja menikah dengan duda? TIDAK.
Oke,sekarang kita jangan membahas tentang perawan tua dan duda dulu, ya? Sepakat? Ingat kita harus fokus dengan perbincangan kita yaitu JODOH.
Nah, pada akhirnya toh, saya jatuh cinta juga. Tanpa saya rancang-rancang, tanpa saya reka-reka, toh cinta itu datang di hati saya. Saya rasakan cinta itu, lalu saya olah dengan logika saya, bahwa saya menginginkan lelaki itu ada dalam hidup saya, dan dia juga mau dengan saya, ya sudah, oke……saya pun mengajak dia menikah. Dan, menikahlah saya kemudian dengan sukses!P
Sekarang, saat tulisan ini dibuat, rumah tangga saya, alhamdullilah, berjalan lancar dan harmonis. Saat tulisan ini dibuat, saya masih berkarir dengan profesi saya sebelum menikah, dan suami saya juga masih berkarir dengan profesinya, bahkan sekarang beliau sedang kuliah lagi.
Anda pun mestinya demikian. Tak perlulah membabi-buta dan sengsara, meratap-ratap (meratap, bukan berdoa, apalagi berdoa tanpa usaha) di tengah malam, mencari-cari di mana JODOH anda. Jodoh itu di tangan ALLAH SWT.
Lalu, anda bertanya : CARA-nya bagaimana biar dapat JODOH?
Lho, saya kan sudah bilang, buatlah diri kita ini layak untuk dijodohkan.
Bayangkan, bila anda diberi kesempatan untuk memilih orang dari sekian banyak orang, mana yang akan kita pilih?
Anda pasti akan memilih orang yang :
• Wajahnya lumayan
• Pendidikannya cukup
• Pekerjaannya layak
• Baik hati
Sekarang, saya akan bertanya pada anda, apakah anda berwajah lumayan? Anda enak dipandang? Ingat lho, berwajah lumayan itu tidak selalu cantik atau ganteng. Wajah bersih, ramah, berseri-seri, itu namanya wajah yang lumayan kan? Kalau wajah kita terlalu serem, atau cengengesan……apa enak dipandang? (coba sekali-kali, kalau memang belum pernah, datang ke salon untuk perawatan tubuh/wajah, tidak salah kan?)
Lalu, apakah kita cukup berpendidikan? Pendidikan itu bukan melulu harus sarjana. Enggak dong! Nanti kasihan orang-orang yang bukan sarjana. Berpendidikan itu artinya : JANGAN BODOH! Dan supaya tidak menjadi orang bodoh itu gampang kok, asal kita mau. Coba, sarjana itu apa sih? Mereka itu ( saya juga sarjana, tapi saya tidak menganggap bahwa sarjana itu pasti pinter), dapat gelar sarjana kan karena mereka kuliah, nah, orang kuliah itu kan kerjanya membaca….membaca…..membaca…….
Kalau ada orang, lulus SMA saja, tapi rajin membaca….membaca dan membaca, apa tidak bisa tuh bersaing dengan sarjana? Buku itu gampang dicari kok, di perpustakaan, pinjam tetangga….pinjam saudara…ya kan?
Anda harus tahu, orang yang tidak berpendidikan (tidak suka membaca) itu biasanya menyebalkan. Habis, diajak bicara kadang nggak nyambung. Diberi pengertian, diberi penjelasan, nggak ngerti-ngerti juga!
Makanya, rajinlah membaca!
Berikutnya, apakah kita sudah bekerja? Bekerja itu artinya beraktivitas. Aktivitas itu macam-macam. Yang penting positif. Jadi guru honorer, kalau dikerjakan dengan baik, itu pekerjaan. Jadi aktivis di desa, walau bukan profesi, kalau dilakoni dengan baik, orang tidak akan mengatakan anda pengangguran.
Bekerja membantu di warung punya orang tua, atau kerja di perusahaan teman atau saudara sendiri, kalau dikerjakan dengan baik, itu juga pekerjaan. Syukur-syukur sudah memiliki pekerjaan yang memang layak dan anda idam-idamkan.
Nah, yang terakhir, baik hati. Orang yang baik hati itu pasti enak dilihat dan ditunggu kehadirannya. Karena orang yang baik hati tidak akan menyusahkan orang lain. Betul bukan?
Oke, sampai disini, kita sudah berbincang tentang bagaimana membuat diri kita layak untuk dijodohkan oleh Allah Swt ( atau, dengan kata lain, buatlah diri kita memang layak untuk mendapatkan jodoh).
Selain usaha kita sebagai manusia, tentu saja, kita harus berdoa. Soal berdoa, itu harus! Karena manusia hanya bisa berusaha, Tuhan yang menentukan. Soal bagaimana usaha kita sebagai manusia, saya sudah menyampaikan tadi kepada Anda. Kalau kita sudah berusaha, sudah berdoa, maka selanjutnya serahkan semua kepada Allah Swt.
Anda mungkin berpikir, saya kan sudah berusaha, sudah berdoa, kok jodoh saya gak datang-datang? Jawabnya, saya tidak tahu, anda pun tidak tahu. Karena sekali lagi saya katakan jodoh itu rahasia Allah Swt.
Yang bisa kita lakukan adalah : teruslah berdoa, dan teruslah bangun diri kita menjadi manusia unggul, manusia yang, sekali lagi saya katakan, bahkan mungkin berkali-kali, manusia yang layak untuk dijodohkan oleh Allah Swt!
Jangan melakukan kesalahan seperti yang saya lakukan : meratap-ratap tidak menentu, bersedih berlarut-larut, tapi lupa membangun diri sendiri menjadi manusia yang unggul, manusia yang layak, untung saya segera sadar dan bangkit sampai kemudian Allah mengabulkan permintaan saya untuk menemukan jodoh saya.
Kalau anda, merasa bahwa penantian itu terasa panjang, buatlah daftar pekerjaan, daftar pe-er untuk diri anda sendiri, untuk anda kerjakan sambil menanti jodoh itu datang.
Misalnya?
Bayangkan, bagaimana kalau jodoh anda itu guru Bahasa Inggris?
Anda mampu tidak bicara dengannya dalam Bahasa Inggris? Kalau tidak, coba saja belajar Bahasa Inggris. Anda akan membutuhkan waktu lama untuk belajar Bahasa Inggris bukan? Tahu-tahu, anda bertemu dengan jodoh Anda tanpa merasa menunggu karena anda sedang sibuk belajar Bahasa Inggris. Eh, ini sih anda tidak harus melakukannya kalau anda tidak mau. Saya hanya membuat suatu gambaran, bagaimana agar menunggu itu tidak terasa seperti menunggu.
Atau, bayangkan, kalau jodoh anda itu suka sekali makan? Anda bisa masak? Kalau jodoh anda hobi komputer, anda bisa komputer?
Apa harus? TIDAK. Tapi, apa iya kita bisa jadi orang yang layak, kalau, sedikit saja kita tidak tahu dunia kerja calon pasangan kita?
Anda sendiri, misalnya seorang guru di suatu sekolah, suatu saat anda sakit sementara anda perlu mengetik soal ujian misalnya, apakah anda bisa minta tolong pada pasangan anda yang tidak tahu apa-apa soal komputer? Bukankah lebih mudah bila ada seseorang di samping kita yang bisa kita mintai tolong dengan cepat?
Saya katakan, ini sebuah gambaran. Tidak selalu pasangan-pasangan yang bersliweran di depan anda saling tahu dunia kerja masing-masing. Tapi, kita kan sedang berbincang tentang JODOH, dan saya katakan, permudahlah masa-masa penantian kita dengan pola pikir tadi.
Setuju?
Bila anda setuju, terima kasih. Anda bisa membaca artikel saya yang berkaitan dengan ini, yaitu tentang pernikahan.
Oke, saya rasa cukup perbincangan kita sore ini. Terima kasih atas kunjungan anda di teras saya.
Salam.
Ibu Sakinah.
Fatal error: Call to undefined function comment_form() in /home/keluarga/public_html/wp-content/themes/magazine-basic/comments.php on line 56