Contoh Pernikahan

pernikahan

CONTOH PERNIKAHAN
Pernikahan siapakah yang patut dijadikan contoh? Saya dan adik saya kerap memperbincangkan bagaimana pernikahan yang dijalankan oleh kedua orang tua. Juga yang terjadi pada keluarga lain di lingkungan kerabat dekat. Pada dasarnya tidak ada pernikahan yang sempurna, sesuai dengan sifat dasar manusia yang memang bukan manusia sempurna.
Saya sempat berpikir bahwa pernikahan adalah sesuatu yang pasti indah, dan remaja pada umumnya membayangkan hal serupa. Seolah-olah pernikahan adalah jawaban atas persoalan mereka. Benarkah demikian?
Anak tiri saya yang berumur 21 tahun, seorang mahasiswa , pernah berkata bahwa ia ingin menikah segera dengan lelaki yang sudah mapan. Saya, terus terang, merasa kurang senang dengan keinginan putri saya itu. Kenapa? Karena saya terkesan bahwa ia ingin menikah hanya karena ingin mendapatkan kenyamanan hidup yang dimiliki oleh calon suaminya. Meski saya tidak tahu pasti apakah ia hanya bercanda atau sungguh-sungguh.
Tetapi, dari perkataannya, saya menganalisa, mungkin, bagi kalangan remaja putri, menikah dapat memecahkan masalah mereka, dan biasanya adalah masalah ekonomi. Kalau saya menikah dengan si A yang sudah mapan, saya tidak akan kekurangan uang, saya bisa hidup enak karena ada yang menemani, atau mungkin juga karena sex (?).
Tidak! Saya katakan dengan tegas bahwa menikah itu bukan solusi untuk sebuah masalah, terutama bila masalah yang ada tidak ada kaitannya dengan pernikahan, tapi karena factor kelemahan dari pribadi yang bersangkutan, karena pernikahan itu bukan formula obat atau jalan keluar. Pernikahan ya pernikahan, pernikahan haruslah dipandang sebagai sebuah pernikahan sesuai dengan konteksnya. Salah kalau ada orang yang hidup susah kemudian berpikir bahwa kalau ia menikah dengan orang kaya lalu masalah akan selesai. Mau bukti? Lihatlah Syeh Puji dan istrinya yang baru (yang diberitakan media massa dan jadi perbincangan publik), juga kisah Manohara. Terlepas dari kebenaran cerita ini, seperti yang diduga atau pun dipikirkan oleh orang awam bahwa pernikahan ini karena untuk “menumpang” kenyamanan hidup sebagai orang kaya, apakah tidak menimbulkan masalah?
Apapun pendapat orang, seperti yang pernah saya katakan, bahwa kita haruslah berpijak pada aturan agama yang kita anut. Dan Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menikah dengan dasar harta.
Saya lebih setuju kalau para orang tua mendidik anak perempuan untuk menjadi anak yang mandiri, jangan mudah tergoda oleh lelaki hanya karena harta. Didiklah anak untuk menghargai dan memaknai harta dengan benar. Memang benar, bahwa istri berhak untuk dinafkahi oleh suami, tetapi bila pikiran ini menjadi paradigma yang terlalu diagung-agungkan, akan merusak tatanan rumah tangga dan pernikahan itu sendiri. Karena pada kenyataannya banyak suami yang tidak mampu menghidupi keluarganya dengan layak.
Jadi, pernikahan seperti apa yang patut dicontoh? Ya pernikahan yang didasari pada aturan-aturan agama Islam. Ini memang tidak mudah dilakukan, tetapi setidaknya kita tidak pernah lupa dengan aturan yang harus kita anut. Selama agama tidak menjadi tameng atau pembenaran atas tindakan-tindakan yang cenderung semena-mena.


Fatal error: Call to undefined function comment_form() in /home/keluarga/public_html/wp-content/themes/magazine-basic/comments.php on line 56