Etika, Kepemimpinan dan Kesuksesan.
Akhir-akhir ini saya merasa jengkel. Mungkin karena saya semakin
menua, hingga saya yang biasa nrimo, merasa sah untuk “marah dan
tidak menerima” begitu saja.
Awalnya adalah ketika rekan kerja saya dalam sebuah lingkup kerja
sosial di mana saya tinggal mengirim sebuah surat, yang menurut
saya tidak “cantik” lah kalau dalam bahasa manusia. Betapa tidak,
lha wong katanya dia pendidik, kok menulis surat dengan bahasa
yang menusuk perasaan.
Saya lantas berpikir, sebenarnya apa yang dia tulis itu tidak
perlu sampai terlontar kalau saja beliau ini bisa memahami
situasi. Dalam konteks apa kita ini bekerja.
Dalam sebuah kerja team, apa pun bidang kerjanya, sebuah sistem
harus berjalan. Siapa harus menghubungi siapa, siapa harus
koordinasi dengan siapa. Semua ada sistem, ada aturan.
Kesalahan saya adalah ,saya berpikir bahwa semua orang sudah tahu
akan hal ini. Hingga saya lantas bekerja sesuai yang menjadi tugas
saya. Tetapi pikiran saya ini keliru. Ternyata tidak selalu
sesuatu hal yang saya anggap semua orang tahu itu, sudah diketahui
oleh orang lain. Dan disinilah letak masalahnya.
Ketidaktahuan akan aturan, termasuk etika dalam berperilaku, dan
berkomunikasi telah sungguh-sungguh “mengganggu” pikiran saya.
Kok bisa ya orang ini begitu, padahal dia kelihatannya (pinjam
istilah Handphone, casing-nya baguslah,lumayan).Tapi begitulah
kenyataannya.
Bersambung….